KUE MOHO, JAJANAN JADUL YANG TETAP EKSIS
Kue moho atau orang tionghoa kenal dengan nama hwat kwee
merupakan salah satu makanan wajib di persembahyangan bagi etnis tionghoa di Semarang
saat perayaan imlek. Kue ini pada mulanya merupakan adat kebiasaan dari suku
Hokkian di Semarang, lalu berkembang menjadi kebiasaan suku Cina lainnya kemudian
menyebar ke daerah lain. Menurut adat kebiasannya,wanita yang sedang haid dilarang
membuat kue ini. Saat membuat kue ini juga dilarang mengucapkan kata-kata
kasar/kotor dan harus dibuat dengan perasaan gembira agar hasilnya akhirnya
bisa merekah.
Nama hwat kwee ini berasal dari kata hwat yang artinya
merekah yang mengandung arti harapan untuk rejeki yang melimpah seperti merekahnya
kue ini. Bentuknya mirip seperti kue bakpao namun perbedaannya adalah kue moho
atau hwat kwee ini lebih padat dan ujungnya
merekah seperti kue mangkok. Hwat kwee ini identik dengan warna merah khas
Tionghoa namun beberapa kue hwat kwee ada juga yang dimodifikasi warna lain
namun dengan cita rasa yang sama, legendaris.
Meskipun kue ini merupakan makanan khas etnis Tionghoa di
Semarang, namun kue ini juga menjadi konsumsi warga Kota Malang. Di salah satu sudut
Pasar Besar Kota Malang, di depan UD. Nusantara, Jalan Sersan Harun No. 18 kue ini
masih bisa ditemui dengan harga yang masih sangat terjangkau yaitu 1.500 rupiah
saja. Sebelumnya kue ini hanya dibandrol seharga seribu rupiah namun beberapa
minggu lalu sekitar awal Bulan Februari naik menjadi 1.500 rupiah. Masih sangat
terjangkau untuk kue jadul yang sudah jarang ditemui. Dengan harga 1.500 rupiah
per bijinya, kue ini sudah bisa mengganjal perut kalian yang lapar karena satu
biji kue ini cukup besar. Bagi para penikmatnya, kue ini memiliki cita rasa yang
khas, tidak terlalu manis dan padat. Kue ini sangat cocok disantap dengan secangkir
kopi atau teh hangat.


Tidak ada komentar: